Perjalanan berlanjut ke selatan dari Rangkas Bitung. Sekitar 10 kilometer setelahnya mulai terlihat beberapa bukit terkupas dan “dikuliti” untuk penambangan pasir. Tentunya mudah ditebak bahwa jalan di sekitarnya rusak parah oleh truk-truk pengangkut pasir yang kelebihan muatan tetapi selalu “lulus” kir, alias uji petik kendaraan. Dengar-dengar penguasa Lebak memang memiliki jiwa “membangun” karena latar belakangnya adalah kontraktor.
Karena tujuan utama kami ke wilayah Baduy Dalam, kami tidak berbelok kiri ke Ciboleger sebagai pintu utama ke kawasan Baduy, melainkan langsung menuju selatannya ke arah Parigi dan berhenti di Cijahe.

Bersiap mengangkut obat ke Cibeo
Di sana Kelik sudah berkoordinasi rupanya dengan teman-teman Baduy dalam. Terlihat Sardi, Sarip dan Sadim telah menanti kami. Kemudian, kami berbincang sebentar dengan Mursid, salah seorang “intelektual” Baduy yang kebetulan juga sedang di Cijahe.
Dalam menyampaikan maksud kedatangan kami, tetap harus hati-hati mengemukakannya. Tidak serta merta kami sampaikan bahwa kami mendengar ada wabah dan membawa obat untuk membantu. Kami bertanya dulu kondisi terakhir dan apa yang sudah dilakukan.
Keterangan Mursid memprihatinkan dan melegakan kami. Yang memprihatinkan, dia cerita bahwa wabah sudah datang sekitar 2 bulan lalu menyerang orang tua dan anak-anak. Terkonfirmasi sudah ada 4 anak meninggal dunia, anak dari Yardi, Yasip, Nardi dan Harnia. Yang melegakan, dokter dari pemerintah sudah berkunjung dan mengirimkan obat. Kami pun bercerita bahwa kunjungan ini adalah dasarnya silaturahmi, tetapi sekaligus juga kalau ada bantuan yang bisa kami lakukan, akan kami upayakan semampu kami. “Saat ini masih ada sekitar dua puluhan anak yang masih batuk-batuk,” tutur Mursid.
Dari uraian teman-teman Baduy, Aristi melakukan pemilahan ulang obat dan vitamin yang akan dibawa. Antibiotik dikurangi dan rencananya diserahkan ke Puskesmas saat perjalanan pulang, karena obat keras itu bila berada di tangan yang kurang paham penggunaannya justru bisa membahayakan. Vitamin dibawa semua.
Perjalanan di siang bolong itu melalui kampung Cisadane –yang masih di Baduy luar– terlebih dahulu. Kampung ini sepi karena sebagian besar penduduknya di ladang dan hutan. Dari informasi teman-teman Baduy ada yang menderita sakit di situ.
Seorang ibu tampak terduduk lemah di dalam rumahnya. Dari cerita Sardi yang menjadi penerjemah, ia sudah terkena diare hampir setahun, namun saat ini sudah membaik. Badannya habis dan matanya cekung. Aristi kesulitan memeriksa denyut nadinya, karena nyaris tak terdeteksi. Karena tak bersiap menghadapi penyakit diare, hanya vitamin yang bisa diberikan.
Gizi memang menjadi salah satu masalah utama kesehatan di Baduy Dalam. Diet utama mereka adalah beras, ikan asin dan sayuran. Protein hewani kurang karena pantang memelihara binatang berkaki empat. Ayam dipelihara, namun hanya dikonsumsi saat ritual. Untuk anak-anak, kondisi gizi ini diperburuk dengan masuknya makanan instan, yang kebanyakan mengandung pengawet.
Sesampai di Cibeo, keadaannya sama juga sepinya. Maklum ini adalah bulan kawalu, alias bulan suci saat masyarakat Baduy Dalam menggelar beberapa ritual suci mereka. Saat ini juga seharusnya pantang untuk berkunjung ke kawasan Baduy Dalam. Namun teman-teman Baduy Dalam mengerti alasan kunjungan kami sehingga tidak memasalahkannya. Di pintu kampung Cibeo, sesaat sebelum menyeberang sungai yang menjadi pembatas, kami menjumpai makam 3 dari 4 anak yang menjadi korban.
Tak berapa lama istirahat di rumah Sardi –walau dalam kondisi wabah tetap menyediakan duren untuk kami santap–, Karnain datang dan meminta kami memeriksa anaknya, Karja. Anak usia tujuh tahun ini sulung dari 4 bersaudara dan semuanya terkena Pertusis.
Badannya habis dan nafasnya cepat. Saya sebagai orang awam tak begitu mengerti akan kondisi medisnya, tetapi kelihatannya ada yang tidak normal. Aristi memeriksanya di dada dan punggungnya. Ia memberikan obat dan vitamin yang dibutuhkan. Ia juga menyarankan menambah gizi dengan –mungkin– menyantap telur rebus. Namun ini bulan kawalu, orang Baduy Dalam berpantang makan telur.
Dalam perjalanan kembali ke rumah Sardi, Aristi bergumam,”He is dying…”